Ilmu dan Amal

“Hai Rasul, sampaikanlah apa yang di turunkan kepadamu dari Tuhanmu. Dan jika  tidak kamu kerjakan (apa yang diperintahkan itu, berarti) kamu tidak  menyampaikan amanat-Nya. 
Allah memelihara kamu dari (gangguan) manusia.  Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir”.  QS.Al-Maaidah [5] : 67
Sabda Baginda Rasulullah SAW, "Sampaikanlah dariku,  walaupun hanya satu ayat."
Petikan Minda :
Miskin harta tidak mengapa,
tapi jangan miskin idea dan jiwa.
Miskin idea buntu di dalam kehidupan.

Miskin jiwa mudah kecewa dan derita

akhirnya putus asa yang sangat berdosa.

ASSALLAMUALAIKUM W.B.T

Sunday, August 28, 2011

Mati Syahid,pembaca Quran,bersedekah dan rajin Solat tapi tetap masuk neraka!!

Kita pasti bertanya, kenapa boleh, seorang hamba yang mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, serta dikenal kerana kedermawanan beliau, tapi pada akhirnya terlempar ke neraka. Apa sebabnya?


Abu Hurairah meriwayatkan, ia pernah mendengar Rasulullah Saw bersabda, ”Manusia pertama yang diadili pada hari Kiamat nanti adalah orang yang mati syahid. Orang yang mati syahid didatangkan di hadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.

Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku berperang demi membela agamamu.” Allah berkata, “Kamu bohong.Kamu berperang supaya orang-orang menyebutmu Sang Pemberani.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Seorang penuntut ilmu yang mengamalkan ilmunya dan rajin membaca al-Qur’an didatangkan dihadapan Allah. Lalu ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya. Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Aku menuntut ilmu, mengamalkannnya, dan aku membaca al-Qur’an demi mencari ridhamu.”

Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu mencari ilmu supaya orang lain menyebutmu orang alim, dan kamu membaca al-Qur’an supaya orang lain menyebutmu orang yang rajin membaca al-Qur’an.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Selanjutnya, seorang yang memiliki kekayaan berlimpah dan terkenal karena kedermawanannya, didatang dihadapan Allah. Kemudian ditunjukkan segala kenikmatan yang telah diberikan kepadanya, dan ia mengakuinya.

Allah bertanya, “Apa yang telah kamu lakukan di dunia?” Dia menjawab, “Semua harta kekayaan yang aku punya tidak aku sukai, kecuali aku sedekah karena-Mu.” Allah berkata, “Kamu bohong. Kamu melakukan itu semua agar orang-orang menyebutmu orang dermawan dan murah hati.” Kemudian Allah memerintahkan agar amalnya dihitung di hadapan pengadilan-NYa. Akhirnya ia dilempar ke neraka.

Abu Hurairah berkata, “Kemudian Rasulullah menepuk pahaku seraya berkata, “Wahai Abu Hurairah, mereka adalag manusia pertama yang merasakan panasnya api neraka Jahanam di Hari Kiamat nanti.” (HR. Muslim)

Berlatih Ikhlas

Dari hadits riwayat Muslim di atas, maka keikhlasan dalam beramal menjadi hal yang sangat penting. Betapa pun seorang hamba mati di medan jihad, berilmu dan membaca al-Qur’an, bahkan dikenal karena kedermawanannya, tapi jika tidak disertai dengan keikhlasan, maka menjadi sia-sialah amalnya.

Ternyata kata ikhlas, bukan karena bibir ini berucap ikhlas. Atau bahkan tidak berucapkan ikhlas. Boleh jadi, tanpa kita sadari, keikhlasan kita bercampur dengan riya’ dan ingin menunjukkan bahwa kita adalah seorang yang pemberani, yang berilmu, dan dermawan.

Orang bijak berkata, “Orang yang ikhlas adalah orang yang menyembunyikan kebaikannya, seperti dia menyembunyikan kejelekannya. Keikhlasan niat dalam amalmu lebih bermakna daripada amal itu sendiri.”

Ma’ruf al-Karkhi sampai memukul dirinya sendiri sambil berkata, “Wahai jiwa, ikhlaslah! Maka kamu akan bahagia.”

Yahya bin Mu’adz berkata, “Ikhlas adalah memisahkan amal dari cacat seperti terpisahnya susu dari kotoran dan darah.”

Yusuf bin Husain berkata, “Sesuatu yang paling mulia di dunia ini adalah ikhlas. Berapa besar kesungguhanku untuk mengeluarkan pamer dari dalam hati, namun sepertinya ia menetap di hati dalam bentuknya yang lain.”

Setiap kali Ayyub as-Sakhtiyani berbicara, ia mengusap wajahnya sambil berkata, “Aku terserang demam.” Padahal ia takut pamer dan ujub. Dia takut kalau orang-orang berkata tentang dirinya seperti ini. Dia menangis karena takut pada Allah.

Seorang ulama mengatakan, “Jika Allah tidak suka kepada seseorang, maka Allah memberinya tiga hal da menghalanginya dari tiga hal. Pertama, Allah memberi dia teman yang saleh, namun dirinya tidak menjadi orang saleh. Kedua, Allah memberi dia amal saleh, namun dia tidak ikhlas menjalankannya. Ketiga, Allah memberi dia hikmah, namun dia tidak mempercayainya.”

Hakikat Riya

Riya’ itu berasal dari kata ru’yah (melihat), sedanghkan sum’ah (ketenaran) berasal dari kata Samaa’ (mendengar). Riya’ adalah ingin dilihat orang-orang supaya mendapat kedudukan. Riya’ itu tersamar seperti jalannya semut. Termasuk riya’, yaitu orang yang berpura-pura zuhud, berjalan memaksa diri untuk bersikap tenang dan bersikap lemah-lembut.

Dalam ringkasan Ihya Ulumuddin, Imam al Ghazali menegaskan, riya itu haram dan pelakunya dibenci oleh Allah Swt. Hal itu ditunjukkan dalam QS. Al-Ma’un: 4- 6: “Maka, celakalah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya. Orang-orang yang berbuat riya.”

Seorang sahabat Nabi Saw bertanya, “Ya Rasulullah, dengan apa kita selamat?” Rasulullah menjawab, ”Bila manusia tidak mengamalkan ketaatan kepada Allah swt demi mengharap pujian orang-orang.”

Nabi Saw bersabda, “Sesungguhnya yang paling ditakutkan atas kamu adalah syirik kecil.” Sahabat bertanya, “Apakah syirik kecil itu, ya Rasulullah? Beliau menjawab, “Riya.”

Lalu Allah Swt berkata di Hari Kiamat ketika membalas manusia-manusia atas amal-amal mereka: “Pergilah (kamu) kepada orang-orang dulu kamu berbuat riya terhadap mereka di dunia. Lihatlah apakah kamu mendapat balasan dari mereka?”

Dalam hadits yang lain, Rasulullah bersabda, “Berlindunglah kamu dengan Allah dari jubbul huzun (lembah duka). Sahabat bertanya, “Apa itu ya Rasulullah?’ Nabi Saw menjawab, “Sebuah lembah di neraka Jahanam yang disediakan bagi para pembaca Al-Qur’an yang berbuat riya.” ~ voa-islam

Wednesday, August 24, 2011

Riak (tertipu) dalam beribadat






PENGERTIAN RIAK
---------------------------------------------------------------

Riak itu ialah melakukan kebaikan dan amal ibadat semata-mata untuk mencari tempat di dalam hati manusia.

Perkara yang diriakkan oleh manusia;

1- Riak dari segi badan

Riak jenis ini menunjukkan seseorang itu menampakkan keletihannya kerana berpuasa dan banyak berjaga malam untuk beribadat.

2- Riak pada pakaian

Seseorang itu memakai pakaian yang menunjukkan kewarakan dirinya sedangkan hakikatnya tidak. Memakai pakaian sebegini di hadapan golongan tertentu kerana kepentingan diri sedangkan di waktu lain dia bukanlah sebegitu malah hatinya juga bukanlah berniat untuk mendapat keredhaan Allah tetapi mengharap penghormatan daripada orang lain.

3- Riak dengan perkataan.

Riak ini adalah seseorang itu menunjukkan dirinya seorang yang benar dan ikhlas melalui perkataan yang keluar dari bibirnya. Tuturnya seperti seorang penasihat dan pensyarah. Dia memilih lafaz-lafaz yang halus dan dalam maknanya juga kata- kata hikmat beserta hadith.Memperlekeh orang lain yang tidak rajin beribadah sepertinya. Dia juga berkata seperti kata para Nabi dan aulia sedangkan pada hakikatnya dia sebenarnya sunyi dan kosong.

4- Riak pada amalan

Orang sebegini adalah sering menzahirkan khusyuk dalam solat dan sengaja memanjang-manjangkan rukuk dan sujud apabila ada orang melihatnya. Orang seperti ini sering bersedekah secara terang-terangan, pergi menunaikan fardhu haji, berjalan menundukkan kepala dan kurang berpaling ke kanan dan ke kiri padahal Allah mengetahui batinnya. Sedangkan jika dia bersendirian amalannya bukan sempurna sebegitu, seperti solat dengan cepat, berjalan laju dengan matanya sering meliar ke sana ke mari dan sebagainya.

5- Riak dengan ramainya murid dan pengikut.

Seseorang itu berasa bangga dengan murid dan pengikut yang ramai. Demikian juga seperti seseorang yang sering menyebut nama ulama’ itu dan ulama’ ini bagi menunjukkan dirinya seorang yang banyak bertemu dengan syeikh dan ulama.

Peringkat Riak

1- Riak Akbar
Riak akbar ialah seseorang itu taat melakukan ibadat tetapi untuk mendapatkan sesuatu daripada manusia dan bukanlah untuk beroleh keredhaan Allah SWT. Riak ini adalah berpaling terus daripada Allah pada keseluruhannya kerana hanya berkiblatkan manusia.

2- Riak Asghar
Riak asghar ini pula ialah melakukan sesuatu untuk mendapatkan apa yang ada pada manusia dan apa yang pada Tuhan iaitu melakukan amal kerana Allah dan kerana yang lain daripada-Nya. Riak ini adalah lebih ringan daripada riak akbar kerana orang itu menghadap Allah pada satu segi dan kepada manusia pada satu segi yang lain.

3- Riak Jahli ( yang terang )
Riak ini ialah mendorong seseorang itu untuk melakukan amal ibadat. Sehinggakan jika tanpa riak ini dia tidak berminat untuk melakukan amal.

4- Riak Khafi ( yang tersembunyi )
Riak ini pula ialah riak yang tesembunyi dan ianya tersembunyi dalam hati di mana ianya mendorong seseorang itu untuk lebih rajin beribadat.

Bagaimana mengelakkan sifat riak?

Rawatan terbaik bagi segala penyakit di muka bumi ini adalah menghindari dengan menjauhi sebab-sebab
dan punca terjadinya penyakit. Begitu jugalah kepada penyakit riak ini, iaitu menjauhi sebab-sebab yang
boleh membawa kepada perasaan itu, antaranya ialah;
1- Sifat suka dipuji oleh orang lain. Sifat ini akan membawa kepada bangga diri dan suka menunjuk-nunjuk
kealiman dan kewara` kan kepada orang lain.
2- Takut dikritik atau dicerca oleh orang lain. Ketakutan ini boleh membawa kepada penampilan yang kurang jujur
dan suka berpura-pura.
3- Cintakan kehidupan dan kemewahan dunia dan lupa pada kematian. Seseorang itu melakukan segala pekerjaan
adalah semata-mata kerana untuk menarik perhatian orang lain, dan menganggap dirinya hebat. Manusia sebegini mengharapkan ganjaran atas segala pekerjaan yang dilakukan.

Setelah mengetahui sebab-sebab yang menjadi punca riak, mari kita lihat bagaimanakah cara untuk menghindarinya. Terdapat beberapa cara untuk menghindari sifat riak daripada menguasai hati;
1- Sentiasa mengingatkan diri sendiri tentang perkara yang diperintahkan Allah dan juga sering menyucikan
hati dengan ikhlas.
2- Mengawasi diri agar sentiasa takut akan kemurkaan Allah. Dengan tabiat ini akan membawa diri
agar sentiasa berwaspada dalam melakukan perkara yang boleh mengheret kepada dosa dan seksaan
Allah pada hari akhirat kelak.
3- Berwaspada terhadap perkara-perkara yang boleh menghapuskan pahala amalan yang dilakukan akibat riak.
4- Menanamkan dalam diri perasaan bahawa melakukan sesuatu itu kerana manusia sehingga membawa
kemurkaan Allah itu adalah suatu perkara yang buruk dan patut dijauhkan.
5- Sentiasa mengawasi diri daripada lalai terhadap ujian dan nikmat yang dikurniakan Allah untuk
menghampirkan diri kepada Allah.
6- Ikhlaskan diri dalam setiap amalan yang dilakukan.

MUDAH-MUDAHAN KITA SEMUA BERLAPANG DADA DAN BERUSAHA KEARAHNYA.INSYAALLAH.


*link

---------------------------------------------------------------------------------------------------------
Hujjatul Islam, Imam al-Ghazali pernah mengingatkan, orang yang tertipu di akhirat kelak adalah orang yang jika berbuat baik, dia berkata, "Akan diterima amal kebaikanku". Jika berbuat maksiat, dia berkata: "Akan diampuni dosaku." (Ihya Ulmuddin).

Saat beribadah, kerap kita didatangi perasaan, "Telah banyak ibadah yang saya lakukan", atau soalan, "Berapa ringgit wang yang saya sedekahkan". Bahkan sering juga hati bergumam, "Kiranya semua dosa-dosaku pasti telah diampuni, karena aku solat sunat sekian kali setiap hati".

Perasaan, angan-angan dan soalan seperti tersebut di atas boleh merosakkan amal perbuatan. Bahkan boleh mengakibatkan meremehkan (tahawun) perbuatan dosa.

Sehingga, ibadahnya boleh menjadi sia-sia. Sebab, semangat ibadahnya bukan lagi kerana takwa kepada Allah SWT, tapi ingin jadi kaya atau ingin disebut ahli ibadah.

Sebagaimana hadis Rasulullah SAW di atas, orang seperti tersebut di atas disebut rakus. Beribadah banyak tanpa disertai pengetahuan ancaman-ancaman Allah SWT dalam al-Quran. Ancaman-Nya dianggap lalu saja.

Rasulullah SAW memberi gambaran: "Sesungguhnya orang mukmin itu memandang dosa-dosanya seperti orang yang berdiri di bawah gunung, yang mana dia (sentiasa) rasa takut yang gunung itu nanti akan menghempapnya, dan orang yang keji pula memandang dosa-dosa mereka seperti seekor lalat yang hinggap di atas hidungnya, yang berkata: dengan hanya begini sahaja (iaitu dengan hanya ditepis dengan tangan sahaja) maka dengan mudah sahaja lalat itu terbang. "(HR. Bukhari Muslim)

Imam al-Ghazali mengingatkan, meremehkan dosa dan over confident terhadap amal perbuatannya adalah sangat berbahaya. Sebab katanya, orang yang sibuk menghitung-hitung pahala biasanya lupa terhadap banyaknya dosa.

Orang seperti ini akan mendapatkan kekecewaan di akhirat. Ketika di dunia dia lupa mengira berapa banyak dosa yang telah dilakukan, sehingga dosa-dosanya lupa dimintakan ampun kepada Allah SWT. Ia hanya sibuk mengira jumlah solat, zakat, puasa dan sedekah yang dilakukan.

Ia tidak mengetahui seberapa besar pengiraan pahalanya jika dibanding dosanya. Maka, saat di akhirat ia menyangka membawa pahala, padahal pahalanya berguguran sementara dosanya menumpuk. Inilah fenomena yang disinyalir akan banyak terjadi pada akhir zaman.

Maka dalam beribadah kita mesti mempunyai pengetahuan seimbang antara berita baik dan ancaman Allah SWT. Ancaman-ancaman Allah yang tersebut dalam al-Quran harus menjadi perhatian kita, agar tidak terjebak di dalamnya. Sementara orang yang hanya menumpukan kepada jumlah pahala (berita baik) disebut sebagai jahil. Tidak mengetahui bahawa setiap hari diawasi oleh malaikat Raqib dan 'Atid yang mencatat kebaikan dan keburukan.

Kita pun kadang-kadang terlalu 'asyik' melafazkan huruf demi huruf al-Quran, tapi lupa isi dan pelajaran di baliknya. 'Keasyikan' itu menimbulkan kebanggaan hati, bahawa ia telah melakukan amal baik - iaitu membaca al-Quran sebanyak-banyaknya.

Pernahkan terbisik di dalam hati kita kata-kata ini: "Alhamdulillah, sudah sekian kali al-Quran telah aku khatamkan. Pasti aku masuk syurga ". Ini kata-kata yang menipu. Memastikan diri ini cukup berbahaya. Boleh menimbulkan 'ujub, bahkan melalaikan dosa.

Fenomena ini pernah terjadi pada masa umat nabi Musa as, seperti tertulis dalam al-Quran: "... Maka datanglah sesudah mereka, iaitu generasi yang mewarisi Taurat, yang menghambil harta benda dunia yang rendah ini, sambil berkata: 'Kami akan diberi keampunan oleh Allah. '"(QS. Al-A'raf: 169). Generasi tersebut, berbuat dosa akan tetapi merasa mereka diampuni oleh Allah.

Imam al-Ghazali menjelaskan: "Jika kita terlena menghitung pahala tetapi dosa-dosa dilupakan. Maka kita menjadi orang tertipu terhadap amal kita sendiri. Pada hari pengiraan amal, kita akan terkejut. Sebab ternyata timbangan amal lebih berat daripada pahala yang kita sangka-sangka telah terkumpul. "

Maka, jangan kita tertipu oleh perasaan diri kita sendiri. Yang perlu kita lakukan, bukan asyik mengira pundi-pundi pahala. Setelah beramal, biarlah kita serahkan kepada-Nya. Allah SWT Maha Bijaksana, Dia yang menetapkan pahala kita secara adil. Jangan pula terburu-buru mengatakan "Saya telah ikhlas!". Biasanya orang yang terang-terangan berkata demikian sebaliknya, tidak ikhlas, sebab membawa perasaan 'ujub di hatinya.

Agar tidak terjebak, kita harus mengira dosa yang telah kita lakukan. Sempatkanlah satu-satu masa dalam sehari untuk mengira, berapa kali dosa yang telah kita lakukan sehari ini. Jika tidak ada pengiraan dosa, kita akan terus merasa tidak pernah berbuat dosa.

Allah SWT berfirman: "Tidak ada satu kata pun yang diucapkannya melainkan ada di sisinya malaikat Raqib dan 'Atid." (QS. Qaaf: 18). Perasaan selalu diawas ini akan menjadikan kita orang yang selalu berhati-hati dalam beribadah. Tidak asal ibadah, tapi tahu ilmu tentang ibadah.

Kita boleh saja memikirkan pahala-pahala dari ibadah, akan tetapi hal itu jangan sampai membuat kita terlena dengan keutamaan-keutamaannya (fadlilah). Keutamaan ini menjadi penyemangat kita bukan melemahkan. Mengetahui keutamaan ibadah sekaligus memahami akibat dari melakukan dosa. Inilah keseimbangan yang perlu dijaga dalam beribadah.

Tuesday, August 23, 2011

Tazkirah : Al-Fadhil Al-Walid Sheikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah Al-Banjari Al-Makki

Masjid Negeri Selangor - Tafaqquh Fiddin 17 Ogos 2011 bersama Al-Fadhil Al-Walid Sheikh Muhammad Nuruddin Marbu Abdullah Al-Banjari Al-Makki





Friday, August 19, 2011

Malam memperingati Lailatul Qadar


Mencari Lailatul Qadar
Datuk Dr. Abdul Monir Bin YaacobKetua Pengarah
00/00/0000 | Artikel Bahasa Malaysia
(Makalah ini menurunkan pendapat beberapa ulaam dipetik daripada beberapa kitab tafsir tentang Lailatul Qadar)
Terdapat perbezaan pendapat tentang status surah al-Qadr samada Makkiyyah atau Madniyyah. Ada pendapat menyatakan ia adalah surah pertama diturunkan di Madinah. Dalam kitab al-Itqan memilih pendapat yang menyatakan ia adalah makkiyyah. Maksud diturunkan adalah untuk menzahirkan al-Quran dari alam ghaib kepada dunia syahadah.

Dalam surah al-Qadr menegaskan bahawa al-Quran telah diturunkan dari Luh Mahfuz atau dari langit yang tertinggi (Jami al-Bayan, J. 15, hlm. 258) ke langit dunia iaitu Baitul Izzah pada malam Lailatul Qadar (Ruh al-Maani, J. 10, hlm. 198). Ini ditegaskan lagi dengan sebuah hadis daripada Ibn Abbas yang menyatakan bahawa al-Quran diturunkan kesemua sekali pada malam Lailatul Qadar pada bulan Ramadhan ke langit dunia (Jami al-Bayan, J. 15, hlm. 258).

Menurut Hamka, Lailatul Qadar memberi dua maksud, pertama; kemuliaan kerana setengah dari erti qadr itu ialah kemuliaan; kedua bermaksud penentuan kerana pada waktu itulah mulai ditentukan langkah yang akan ditempuhi oleh Rasulullah s.a.w didalam memberi pertunjuk kepada umat manusia. Kalau dipakai erti kemuliaan, maka mulai pada malam itulah kemuliaan tertinggi dianugerahkan kepada nabi Muhammad s.a.w kerana itulah permulaan Malaikat Jibril menyatakan dirinya dihadapan baginda didalam gua Hira�. Pada malam itu perikemanusiaan diberi kemuliaan dikeluarkan dari zulumat/kegelapan kepada nur/cahaya petunjuk Allah.

Jika diberi erti penentuan bermaksud dimalam itu dimulai menentukan garis pemisah diantara kufur dengan iman, jahiliyah dengan Islam, syirik dengan tauhid. Dan penjelasan tersebut menunjukkan bahawa malam itu adalah malam yang istimewa berbanding dari segala malam (Hamka, J. 10, hlm. 8068). Malam yang membawa lembaran baru, turun wahyu ke dunia setelah terputus sekian lama.

Terdapat beberapa pendapat tentang peristiwa Lailatul Qadar samada ia berlaku sekali atau datang pada setiap Ramadhan. Menurut Ibn Umar, Lailatul Qadar berlaku pada setiap Ramadhan (Jami al-�Bayan, hlm. 209). Pendapat yang lain dari setengah ulama ada menyatakan Lailatul Qadar berlaku sekali sahaja iaitu ketika al-Quran mulai diturunkan pertama kali. Adapun Lailatul Qadar yang kita peringati dan berusaha memperbanyakkan amal ibadat pada malam-malam di bulan Ramadhan adalah untuk memperteguh ingatan kita kepada peristiwa turunnya al-Quran. Kita hidupkan malam itu dengan mengambil berkat dan memperbanyakkan syukur kepada Allah s.w.t. Berdiri mengerjakan terawih dan qiamullail di bulan Ramadhan adalah bertepatan dengan malam turunnya al-Quran (Hamka, hlm. 8071).

Menurut Syeikh Yusuf Amrullah, bapa Hamka, berpegang dengan pendapat al-Hafiz Ibn Hajar menyatakan bahawa Lailatul Qadar yang sebenar hanya sekali iaitu malam mula-mula al-Quran diturunkan. Yang kita buat amal ibadat didalam bulan puasa adalah mengingati Lailatul Qadar itu ialah memperingati dan memuliakan malam al-Quran diturunkan. Kita ingati setiap tahun agar kita bertambah teguh memegang segala yang diturunkan Allah didalam al-Quran.

Hari kebesaran dalam Islam banyak yang diperingati dan menjadi amal ibadat seperti berpuasa pada 10 Muharam atau Asyura kerana mengenangkan beberapa kejadian pada Nabi-nabi yang terdahulu pada tarikh tersebut. Begitu juga dalam manasik haji telah dikatikan dengan kejadian zaman lampau seperti Saci antara Bukit Safa dan Marwah, mengenangkan betapa sulitnya Hajar mencari air untuk anaknya, Ismail di lembah yang tidak ada tumbuh-tumbuhan. Kita juga disunatkan melontar Jamrah bagi memperingati perdayaan syaitan kepada nabi Ibrahim kerana akan menyembelih puteranya Ismail atas perintah Allah. Apabila dikaitkan dengan menghidupkan malam Lailatul Qadar dapatlah diambil kesimpulan bahawa kesemua ibadat tersebut mempunyai tujuan yang sama iaitu untuk membesarkan syiar Allah dan menambah taqwa dalam diri.

Terdapat berbagai cerita mengenai tanda malam Lailatul Qadar iaitu dapat disaksikan kejadian yang ganjil-ganjil seperti air berhenti mengalir, pohon kayu tunduk rukuk ke bumi dan sebagainya. Menurut Hamka semuanya ini adalah perkara yang tidak dapat dipertanggungjawabkan menurut ilmu agama yang sebenarnya.

Terdapat beberapa hadis yang menceritakan tentang berlakunya Lailatul Qadar dan ia tetap berlaku atau berulang pada setiap bulan Ramadhan, cuma tidak dapat dipastikan secara tepat malam yang keberapa ia berlaku.

Perbincangan panjang lebar diantara ahli-ahli Hadis, mengenai dengan malam apakah yang tepat Lailatul Qadar itu berlaku. Dalam kitab �Fath al-Basri� menurunkan tidak kurang dari 45 qaul tentang malam terjadinya Lailatul Qadar, masing-masing menurut pengalaman dengan catatan Ulama-ulama yang merawikannya, sejak dari malam 1 Ramadhan sampai 29 atau malam 30 Ramadhan. Semuanya dinukilkan oleh as-Syaukani di dalam `Nailul-Authar�nya.

Oleh sebab itu dianjurkanlah supaya setiap malam bulan Ramdhan diisikan penuh dengan ibadat. Bagaimanapun terdapat juga riwayat yang kuat menyatakan bahawa Lailatul Qadar itu ialah pada malam sepuluh yang akhir dari Ramadhan ertinya sejak malam 21, kerana sejak malam 21 itu nabi s.a.w lebih memperkuat ibadatnya daripada malam-malam yang sebelumnya sampai beliau bangunkan kaum keluarganya yang tertidur.

Abdullah bin Mas`ud dan asy-Sya`bi dan al-Hasan dan Qatadah berpendapat bahawa malam itu ialah malam 24 Ramadhan. Alasan mereka ialah kerana ada hadis yang menyatakan bahawa al-Quran diturunkan pada 24 Ramadhan.

Satu riwayat lagi menyatakan jatuhnya ialah pada 17 Ramadhan. Orang yang berpegang pada 17 Ramadhan ini mengambil istimbath daripada ayat 41 dari surah an-Anfal kerana di sana tersebut bermaksud;

� �� dan apa yang Kami turunkan kepada Hamba Kami pada Pemisahan hari bertemu dua golongan�

`Hari bertemu dua golongan� ialah dalam peperangan Badar, pada 17 Ramadhan sedang `hari pemisahan� ialah hari turunnya al-Quran yang pertama yang disebut juga malam yang diberi berkat sebagaimana tersebut didalam surah 44 ad-Dukhan. Maka oleh kerana berhadapan dua golongan di Perang Badar itu, golongan Islam dan golongan Musyrikin terjadi pada 17 Ramadhan, mereka menguatkan bahawa Lailatul Qadar mulai turunnya al-Quran di gua Hira ialah 17 Ramadhan pula meskipun jarak waktunya adalah 15 tahun.

Banyak hadis-hadis yang menyatakan Lailatul Qadar berlaku pada malam yang ganjil sepuluh terakhir dalam bulan Ramadhan (Ruh al-Maani, hlm. 191), dan ada pendapat hadis yang menetapkan pada malam 27.

Ada diceritakan terdapat dikalangan sahabat Rasulullah merasa hairan dengan cerita seorang lelaki dari bani Israel beribadat sepanjang malam kemudian berjihad menentang musuh diwaktu siang dan melakukannya selama seribu bulan. Dalam cerita lain menyatakan seramai empat orang dari bani Israel beribadat kepada Tuhan selama delapan puluh tahun dan mereka tidak melakukan maksiat atau keingkaran. Datang Jibrail kepada nabi bertanyakan samada umatnya hairan dengan ibadat mereka itu. Allah telah menurunkan yang lebih baik dari itu, lalu dibaca surah al-Qadr. Dinyatakan juga bahawa pemerintah nabi Sulaiman dan Zulqarnain selama lima ratus bulan. Maka Tuhan jadikan amalan pada malam Lailatul Qadar (bagi mereka yang mendapatnya) lebih dari tempoh kedua pemerintahan tersebut dan lebih baik dari seribu malam amalan lelaki bani Israel itu.

Dalam tafsir Ruh al-Maani ada dinyatakan setengah ulama al-Shafie berpendapat ada beberapa malam yang istimewa iaitu malam yang paling afdal ialah malam kelahiran-kelahiran nabi Muhammas s.a.w. Kemudian diikuti dengan malam Lailatul Qadar kemudian malam Irsa� dan Micraj, malam Arafah, malam Jumaat, malam Nisfu Syaaban dan kemudiannya malam raya (hlm. 194).

Mengikut Anas daripada nabi menyatakan bahawa Allah s.w.t telah menganugerahkan kepada umatku (Muhammad) Lailatul Qadar dan tidak diberikan kepada umat sebelumnya.

Keistimewaan lain yang berlaku pada malam Lailatul Qadar dinyatakan dalam ayat 4 yang menjelaskan bahawa malaikat dan roh turun pada malam itu dengan keizinan Tuhan. Yang dimaksudkan dengan `roh� ialah malaikat Jibrail dan ini pendapat jumhur ulama. Ia disebut secara khusus kerana kemuliannya. Ada pendapat lain menyatakan nabi Isa a.s turun untuk melihat umat dan menziarahi nabi Muhammas s.a.w. Ada juga pendapat menyatakan roh-roh orang yang mukmin turun untuk menziarahi keluarga-keluarga mereka. Ada pendapat satu lagi mentafsirkan kepada `Rahmat� dari Allah.

Malaikat turun dari martabat mereka yang tinggi yang sebok dengan urusan Allah s.w.t untuk mengucap `salam� kepada orang mukmin. Oleh kerana mereka ramai, antara mereka turun secara kumpulan, ada yang turun dan ada yang naik semula. Oleh kerana kejadian mereka adalah dari nur atau cahaya maka tidaklah timbul masalah kesesakan. Para malaikat yang ramai itu pergi mengunjungi tempat kdiaman orang mukmin, kecuali rumah yang terdapat didalamnya anjing, khinzir, arak dan patung. Mereka megucup tasbih dan memohon keampunan bagi umat Muhammad s.a.w sehinggalah sampai waktu fajar barulah mereka naik semula ke langit. Melihat ini bertasbih memuji Allah s.w.t justeru syukur mereka kepada Allah yang telah melimpahkan keampunan kepada umat Muhammad s.a.w.

Pada malam tersebut Allah s.w.t telah melipatkan rahmatnya kepada seluruh orang mukmin yang masih hidup dan juga kepada yang telah mati. Betapa pemurahnya Allah kepada hambaNya.

Jika kita mengamati hadis dari Anas bin Malik yang menyatakan, barangsiapa yang menunaikan solat maghrib dan isya� berjamaah sepanjang bulan Ramadhan sesungguhnya dia telah mendapat sebahagian dari Lailatul Qadar. Bermaksud bukanlah suatu yang amat sukar untuk mendapatkan sebahagian dari malam Lailatul Qadar. Yang penting kita tidak mengabaikan mana-mana malam di bulan Ramadhan kecuali dengan melakukan ibadat dan paling minimum sembahyang berjamaah pada waktu maghrib dan isya�.

Malam Lailatul Qadar adalah malam yang sejahtera dan selamat dari segala kejahatan dari awal malam sehinggalah terbit fajar. Memberi erti kebaikan menyelubungi sepanjang malam Lailatul Qadar. Tentulah hampa bagi mereka yang lalai yang tidak ambil berat tentang malam Lailatul Qadar, namun ia tetap datang disetiap bulan Ramadhan.

Wednesday, August 17, 2011

NUZUL AL-QURAN


Saf al Quran
Pada hari ini 17 Ogos 2011 bersamaan dengan 17 Ramadhan 1432 hijrah, berlaku peristiwa besar dalam sejarah Islam. Apabila disebut Nuzul al-Quran, pasti ramai yang tahu mengenainya. Namun, jika disebut Badar Kubro, ramai diantara kita yang tidak mengetahuinya.
Perkara ini berlaku mungkin kerana tidak banyak info dan maklumat disebarkan berkenaan peristiwa Badar Kubro berbanding dengan peristiwa Nuzul al-Quran yang amat masyhur dikalangan umat Islam di Malaysia.
NUZUL AL-QURAN
Peristiwa nuzul al-Quran menjadi satu rakaman sejarah dalam kehidupan Nabi S.A.W hingga seterusnya berperingkat-peringkat menjadi lengkap sebagaimana kitab al-Quran yang ada pada kita hari ini. Peristiwa Nuzul al-Quran berlaku pada malam Jumaat, 17 Ramadhan, tahun ke-41 daripada keputeraan Nabi Muhamad S.A.W.
Perkataan Nuzul bererti turun atau berpindah dari atas ke bawah. Bila disebut bahawa al-Quran adalah mukjizat terbesar Nabi S.A.W, maka ianya memberi makna terlalu besar kepada umat Islam terutamanya yang serius memikirkan rahsia al-Quran.
Al-Quran bererti bacaan atau himpunan. Di dalamnya terhimpun ayat yang menjelaskan pelbagai perkara meliputi soal tauhid, ibadah,  jinayah,  muamalah,  sains,  teknologi dan sebagainya. Firman Allah S.W.T :
Dan tidak seekor pun binatang yang melata di bumi, dan tidak seekor pun burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan mereka umat-umat seperti kamu. Tiada Kami tinggalkan sesuatu pun di dalam kitab al-Quran ini; kemudian mereka semuanya akan dihimpunkan kepada Tuhan mereka (untuk dihisab dan menerima balasan). – al-An’am : Ayat 38
Al-Quran adalah hidayah, rahmat, syifa, nur, furqan dan pemberi penjelasan bagi manusia. Segala isi kandungan al-Quran itu benar.
Al-Quran juga dikenali sebagai al-Nur bererti cahaya yang menerangi, al-Furqan bererti yang dapat membezakan di antara yang hak dan batil dan al-Zikr pula bermaksud yang memberi peringatan.
Dalam sejarah kehidupan Nabi SAW ayat al-Quran yang mula-mula diturunkan Allah S.W.T kepada Nabi Muhammad S.A.W melalui perantaraan malaikat Jibril ialah lima ayat pertama daripada surah al-‘Alaq :
Bacalah (wahai Muhammad) dengan nama Tuhan mu yang menciptakan (sekalian makhluk), Ia menciptakan manusia dari sebuku darah beku; Bacalah, dan Tuhan mu Yang Maha Pemurah, -Yang mengajar manusia melalui pena dan tulisan, -Ia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. – al-‘alaq : Ayat 1-5
BADAR KUBRO
Tanggal 17 Ramadhan juga, Allah S.W.T mengatur kemenangan umat Islam Generasi Pertama mengalahkan tentera kuffar di pekan Badar, 150 km dari Madinah.
Ia bukan sahaja salah satu kisah perjuangan Rasulullah S.A.W, malah ia adalah satu noktah peralihan yang penting dalam sejarah perjuangan Islam. Ia adalah juga tanda jalan dan pengajaran yang penting kepada para pendakwah sepanjang zaman sehingga ke Hari Kebangkitan.
Sebaik mendengar rombongan dagang Abu Sufian bergerak dari Mekah menuju arah utara ke Syam dimana sudah pasti rombongan tersebut akan melalui Madinah yang berada di tengah-tengah perjalanan, Rasulullah S.A.W merancang untuk merampas harta dagangan tersebut.
Namun, rombongan dagang Abu Sufian seramai 40 orang meluncur laju, berjaya melepasi Madinah dan tiba ke Syam. Rasulullah S.A.W terpaksa pula menunggu mereka pulang melalui Madinah, jaraknya 400 km sebelum tiba ke Mekah di selatan.
Apabila menghampiri Madinah, Abu Sufian dapat merasai bahaya yang menunggu, sedang beliau diiringi oleh hanya 40 orang pedagang, bukan pejuang.
Dia meramas tahi-tahi unta yang berdekatan. Ia berisi biji-biji kurma. Pasti ia unta dari tentera perisikan Muhammad S.A.W kerana unta-unta Madinah, sebuah bandar pertanian kurma, memakan buah kurma, sedang unta-unta kabilah lain memakan rumput kering.
Abu Sufian menghubungi pimpinan Quraisy di Mekah untuk meminta pertolongan. Mekah menghantar 1000 tentera. Harapan 313 orang Islam untuk melawan mudah 40 pedagang bersama Abu Sufian meleset.
Tidak semua orang Islam membawa senjata kerana beranggapan mereka hanya akan melawan 40 orang pedagang.
Perang akhirnya meletus dan diakhiri dengan kemenangan dipihak Islam yang serba kekurangan disegi kelengkapan tetapi tinggi disegi keimanan dan keperwiraan.
HIKMAH DAN PENGAJARAN
Pertama : Perang atau Jihad, adalah satu kefardhuan bagi umat Islam sehingga ke Hari Kiamat. Ia adalah suatu yang realiti. Persediaan kearahnya adalah mesti. Tuntutan terhadapnya demi kemenangan Islam adalah pasti.
Kedua : Didalam hidup ini, kadangkala kita menghendakki sesuatu tetapi Allah menghendaki yang lain pula, dengan hikmah yang tertentu yang hanya diketahui olehNya.
Ketiga : Bilangan dan kelengkapan bukan semestinya membawa kepada kemenangan dalam perjuangan. Hakikatnya, keimanan dan pertolongan Allah S.W.T yang menentukan kejayaan.

Monday, August 15, 2011

Wanita Islam Murtad Masuk Kristian Dibogel Dan Dipukul Oleh Orang Ramai

New Delhi, Sekitar 50 orang Islam mengamuk di sebuah gereja menuntut seorang wanita, Selina Bibi agar bertaubat dan masuk semua ke dalam Islam. Mereka mengugut untuk membakar gereja tersebut jika waniat itu enggan memeluk bertaubat.

Sebelum itu Selina Bibi telah dibogelkan oleh 2 orang wanita muslim yang datang bersama sekumpulan orang ramai ke rumahnya bagi melihat tanda dia telah menjadi Kristian. Mereka percaya seorang muslim yang murtad menjadi kristian akan terdapat tanda pada tubuh badannya.

India bukanlah sebuah negara Islam tetapi rakyatnya akan segera bangun jika ada orang Islam yang murtad. Berlainan bagi negara kita kini yang didakwa sebagai sebuah negara Islam tetapi apabila penguatkuasa agama yang memang ada peruntukan undang-undang mencegah murtad membuat pemeriksaan di geraja riuh satu negara. Itu baru buat pemeriksaan dan bukannya serbuan kasar atau tidak beradab.


Kita hanya mengambil isu murtad sebagai modal untuk mencari siapa salah samada kerajaan atau pembangkang sedangkan isu ini bukanlah masalah samada pembangkang atau kerajaan yang bersalah. Ia adalah masalah keseluruhan umat Islam di negara kita yang perlu mencari jalan penyelesaian dan menampal segala kelemahan yang ada.

Walau bagaimanapun Kerajaan perlu memikul semua tanggung jawab tersebut kerana rakyat telah mengamanahkan mereka untuk menerajui negara. Dan tidak lupa juga Majlis Raja-Raja dan Agong yang menjadi penaung dan berkuasa penuh dalam hal ehwal agama perlu aktif menangani masalah ini.

Sumber# 


Baca laporannya di sini.

--------------------------------------------------------------------------------
Hukum Murtad
Konsep murtad, sebagaimana terjadi dalam agama Kristian abad pertengahan dan seperti yang di uraikan oleh Maulana Maududi, adalah sesuatu yang asing bagi Islam. Tidak ada sebuah katapun untuk ungkapan itu di dalam bahasa Arab. Memang ada beberapa orang fuqaha pada masa awal beranggapan murtad dari agama Islam merupakan sebuah pelanggaran yang berbuntut hukuman mati, tetapi definisi muslim yang mereka buat sedemikian luas sehingga tidak seorangpun yang menyebut dirinya sendiri muslim dapat diberi gelar sebagai seorang murtad.

Nabi Muhammad saw membekali kita dengan dua definisi seorang muslim. Pada waktu sensus pertama di Madinah, beliau bersabda:

"Tuliskan untukku nama setiap orang yang menyebut dirinya sendiri seorang muslim."

Pada kesempatan lain Rasulullah saw bersabda:

“Barang siapa yang shalat sebagaimana kami shalat dan menghadap ke arah kiblat kami dan makan apa yang kami sembelih adalah seorang muslim; dia adalah dhimmatullah dan zhimmatur Rasul. Jadi jangan menentang dhimmat- Allah [tanggungjawab].

Tetapi Maulana Maududi dan para Ulama itu, yang mendukung kediktatoran dan otokrasi di dalam negeri negeri muslim, telah mengimbuhkan beragama kualifikasi pada definisi Rasulullah saw yang ringkas padat itu. Dalam bahasa AI Ghazali (450-505/1058-1113) mereka telah membatasi: Rahmat Tuhan Yang Maha Luas untuk menjadikan syurga terbatas hanya untuk sekelompok kecil faksi ahli agama.” Hasil dari daya upaya mereka telah dirangkum oleh bekas Chief Justice Pakistan, Muhammad Munir, yang mengetuai Court of Inquiry atas rusuhan yang terjadi di Punjab (Pakistan) pada tahun 1953. la berkata:

“Dengan berpedoman kepada bermacam-macam definisi yang diberikan oleh para Ulama, apakah kita perlu memberikan tanggapan selain ini, bahwa tidak ditemukan dua orang ulama terpelajar bersepakat dalam hal yang mendasar ini? jika kita mengupayakan definisi kita sendiri, sebagaimana yang telah dilakukan oleh para ulama yang cendikawan, dan definisi itu berbeda dari semua yang lain, kita semua jadi keluar dari lingkungan Islam. Jika kita memegang definisi yang diberikan oleh salah seorang ulama, berasal dari golongan manapun dia, kita tetap seorang muslim menurut pandangan alim itu, tetapi kafir menurut definisi seluruh ulama yang lain.”

Pengamatan Hakim Munir haruslah difahami dalam kaitannya dengan teguran Rasulullah SAW kepada Usamah bin Zaid, Dalam sebuah serangan Ghalib bin Abdullah al-Kalbi, menurut Ibnu Ishaq, satu orang terbunuh oleh Usaman bin Zaid dan yang lainnya. Mengisahkan kejadian ini Usamah bin Zaid berkata:


“Ketika aku dan seorang pemuda Anshor melumpuhkannya dan menyerangnya dengan senjata kami ia melafalkan kalimah syahadah, tetapi kami tidak menahan tangan kami dan kami membunuhnya. Ketika kami menghadap Rasulullah SAW dan menceritakan kepada beliau kejadian tersebut, beliau bersabda:

“siapa yang akan mengampuni engkau Usamah, dari mengabaikan pernyataan iman?”

aku katakan kepada beliau bahawa orang itu telah mengucapkan kalimah semata-mata untuk menghindari maut, tetapi beliau terus mengulang-ulangi pertanyaan beliau dan terus melakukan hal itu sampai aku berharap alangkah baiknya seandainya pada waktu itu aku belum muslim dan aku tidak pernah membunuh orang itu. Aku memohon agar beliau memaafkan diriku dan berjanji bahawa aku tidak akan pernah lagi membunuh seseorang yang telah mengucapkan kalimah syahadah.

Rasulullah saw bersabda:

"Engkau akan mengatakan itu sesudahku (Sesudah kewafatanku), Usamah?"

dan aku mengatakan iya. Rasulullah SAW mengetahui bahawa meskipun beliau sangat khuatir atas kehidupan orang-orang muslim kerana mengucapkan kalimah syahadah, mereka akan tetap dibunuh oleh orang-orang yang diperalat atas nama Islam. Menurut riwayat di dalam Musnad Imam Ahmad bin Hanbal, Rasulullah SAW juga mempertanyakan kepada Usamah apakah ia telah membelah dada orang itu untuk memastikan kebenaran pengakuannya.

Namun tetap saja para ulama yang haus kekuasaan dan menyimpan cita-cita politik terus menghasut orang-orang muslim yang lurus untuk membunuh saudara-saudara muslim mereka orang-orang muslim yang pandangan mereka sedikit berbeda dengan pandangan mereka sendiri seolah-olah, setelah membelah dada mereka, mereka menemukan bukti kuat bahawa keimanan mereka adalah palsu.

Berkenaan dengan kemurtadan, Al-Quran menggunakan kata irtadda, yang maksudnya bahawa tidak ada seseorangpun yang berhak menyatakan muslim lainnya sebagai murtad. Sebagaimana Imam Raghib Asfahani menjelaskan, kata irtidad bererti seseorang menyusuri kembali jejaknya sampai kepada tink dari mana ia datang. Kata itu khususnya dikaitkan dengan perbuatan murtad berbalik kepada kekufuran setelah menjadi muslim, misalnya, "Ingatlah! Orang-orang yang membalikkan punggung mereka setelah datang petunjuk kepada mereka (47.26); dan ‘Barangsiapa siapa dri antara kamu berpaling dari agamanya (5.55) Ridda adalah sebuah kata kerja intransitif dan akar katanya radd. Ia tidak memiliki bentuk transifif; seseorang dapat memutuskan untuk murtad, tetapi tidak ada orang lain dapat membuatnya seorang murtad. Ia merupakan tindakan yang dilakukan atas keinginan sendiri dan tidak ada pihak luar yang dapat ikut campur di bahagian manapun didalamnya. Adalah aspek kebebasan nurani ini yang membedakan irtidad dari konsep kemurtadan menurut Kristian dan Maududi, yang kami bahas pada bab terakhir, yakni kemurtadan dan hukumannya memerlukan otoritas eksternal, gereja atau negara. Ia bagaikan perlaksanna atau, bahkan, pembunuhan. Sementara irtidad adalah bagaikan tindakan bunuh diri.

Seseorang dapat menghukum mati atau membunuh tetapi tidak seorangpun dapat ‘membunuh dirikan’ orang lain. Surah AI Kafirun, diwahyukan pada masa-masa awal kenabian Rasulullah saw adalah sebuah pemyataan kebijakan langsung dalam persoalan kebebasan hati nurani. Rasulullah saw diperintahkan untuk memberitahu orang-orang kafir bahawa sama sekali tidak ada titik temu antara cara hidup mereka dan beliau. Kerana mereka ada dalam ketidaksepakatan yang penuh, tidak hanya berkenaan dengan pemahaman keagamaan yang mendasar, melainkan juga berkenaan dengan rincian dan aspek-aspek lainnya, tidak ada kemungkinan adanya kompromi diantara mereka. Oleh karena itu, ‘Bagi kamu agamamu, bagi kami agama kami.’ (109:6)


Rasulullah saw juga berulang kali diberi tahu agar jangan khawatir jika seandainya orang-orang kafir tidak bersedia menerima dakwah beliau. Beliau bukan wakil (penjaga) atas mereka. Allah Taala berfirman: ‘Orang-orang telah menolak pesan yang telah Kami kirimkan melalui engkau, meskipun ini adalah kebenaran. Katakanlah: “Aku tidak ditunjuk sebagai wakil atasmu.” Pernyataan ini dibuat pada era Mekkah, ketika Rasulullah saw dan para pengikutnya menderita penganiayaan. Namun setelah beliau tiba di Medinah, pernyataannya tetap sama, meskipun sekarang beliau memegang kekuasaan. Pada hakikatnya, bahkan dinyatakan lebih eksplisit lagi.


Surah Madaniyyah yang pertama, yang mengandung bahasan kebebasan hati nurani dibahas di dalam surah Al Baqarah. Ayat ke 256 surah ini mengandung pernyataan yang paling jelas tentang bahasan ini:

“Tidak ada paksaan dalam agama. Sesungguhnya yang haq telah nyata dari yang batil, barang siapa yang menolak untuk dipimpin oleh thagut dan beriman kepada Allah sesungguhnya telah berpegang kepada sebuah pegangan yang kuat yang tidak mengenal putus. Dan Allah Maha Mendengar, Maha Mengetahui.”

Ini adalah pernyataan yang meyakinkan dari seorang Nabi yang telah membangun sebuah Ummah di dalam sebuah kota dimana ia memegang kekuasaan tertinggi. ]angan sampai persoalan jihad disalah mengerti, orang-orang muslim diberi tahu bahwa iman yang benar terletak di dalam amal saleh dan keimanan yang baik. (l68-242) dan Keagungan Tuhan diingatkan di dalam ayatul Kursi (255). Firman ‘tidak ada paksaan dalam Agama’ datang segera setelah ayatul Qursi.

Para pembaca Al Quran mungkin menyimpan anggapan bahwa Tuhan menghendaki orang-orang muslim untuk menyebarkan Islam melalui kekuatan senjata, karena seruannya untuk memerangi para musuh Ummah dan menyerahkan pengorbanan yang khusus kepada Allah. Jadi ayat-ayat itu memberitahukan kepada orang-orang muslim dalam ungkapan yang sangat pasti agar jangan menggunakan kekerasan atas nama dakwah. Inti daripada ayat ini dapat disimak dari dalam sebuah hadits yang dikutip oleh Jami Tirmidzi. Ia mengatakan bahwa jantungnya Al Quran adalah surah Al Baqarah dan setan tidak akan masuk rumah siapa saja yang membaca sepuluh ayat dari surah ini (yakni empat ayat pertama, ayatul kursi dan dua ayat yang menyertainya 256- 257 dan tiga ayat terakhir).

Prinsip tidak ada paksaan ini dinyatakan ulang setelah kemenangan Badr (3.21) dan lagi di dalam surah Al Maidah, yang merupakan surah terakhir yang diwahyukan. Sekarang kekuasaan Muhammad telah tegak sepenuhnya, bukan saja di Madinah melainkan juga di Mekkah, adalah vital untuk menekankan bahwa tugas Rasulullah saw hanyalah untuk menyampaikan firman Allah. Taatilah Allah dan Taaatilah Rasul, dan waspadalah, tetapi jika kamu berpaling, maka ingatlah bahwa tugas Rasul kami hanyalah menyampaikan pesan itu dengan sejelas-jelasnya.” (5.93) dan akhirnya, “Tugas Rasul hanyalah menyampaikan pesan. Allah Maha Mengetahui apa yang kamu nyatakan dan apa yang kamu sembunyikan.’ (5.100) Keyakinan agama adalah sebuah masalah perseorangan. Hanya Tuhan saja bukan negara atau pemimpin agama yang mengetahui apa yang dizahirkan seseorang kepada Tuhan dan apa yang seseorang sembunyikan di dalam hatinya.

Ayat ini membawa kepada pembahasan tentang kemunafikan. Istilah munafik menggambarkan tentang penduduk Madinah yang secara zahir menerima Islam, tetapi keyakinan mereka diragukan karena beberapa alasan. Terdapat banyak referensi kepada mereka di dalam Al quran, tetapi di dalam empat tempat mereka didefinisikan sebagai murtad. Rujukan pertama ada di dalam surah Muhammad. Ini adalah surah Madiniyyah yang secara singkat menjelaskan tujuan peperangan dalam Islam. Surah ini mengatakan bahwa sementara orang-orang beriman menyambut baik wahyu yang menyeru mereka untuk berjihad di jalan Allah, orang-orang munafik merasa seolah-olah mereka sedang digiring ke tempat penjagalan mereka. Dengan cara ini, orang-orang mukmin sejati dipisahkan daripada mereka yang keimanannya dangkal atau palsu. Selanjutnya ayat ini mengatakan:

‘Sesungguhnya orang-orang yang membalikkan punggung mereka (irtaddu) setelah petunjuk menjadi jelas kepada mereka, setan telah mempengaruhi mereka, dan memberikan harapan harapan kosong kepada mereka. Hal itu disebabkan karena mereks mengatakah kepada orang-orang yang membenci apa yang telah diwahukan Allah, ‘kami akan mentaatimu dalam beberapa perkara’ dan Allah Maha Mengehui rahasia-rahasia mereka. (47: 26)

Ayat-ayat yang dikutip diatas sama Sekali tidak menyinggung hukuman untuk orang-orang ini.
Rujukan selanjutkan kepada orang-orang munafik terdapat di dalam surah Al Munafiqun yang diwahyukan menjelang akhir tahun ke 6/626. Surah itu membeberkan arti kemunafikan dan kecurangan kaum munafik dan mencela pengakuan iman mereka sebagai palsu dan tak dapat dipercaya. Ini adalah sebuah teguran terbuka:

“ Allah bersaksi bahwa orang- orang munafik itu pendusta. Keimanan mereka adalah sebuah kepura-puraan agar mereka dapat membelokkan manusia dari jalan Allah. Betapa buruk apa yang mereka kerjakan. Hal itu disebabkan karena mereka beriman dan setelah itu ingkar; maka hati mereka dicap dan mereka tidak mengetahui. … mereka adalah musuh, maka berhati- hatilah! … sama saja bagi mereka apakah engkau memohonkan ampun untuk mereka atau tidak. Allah tidak akan mengampuni mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada kaum yang aniaya.” (63.27)

Dua rujukan terakhir kepada kaum munafik terdapat di dalam satu dari surah-surah yang terakhir, At-Taubah: “Tidak perlu mengada-ada alasan, kamu sesungguhnya telah ingkar setelah beriman. Jika Kami mengampuni segolongan dari antara kamu, segolongan akan Kami hukum, karena mereka telah berbuat dosa.’ (9.66)

Mereka yang akan diampuni tentu saja kaum munafik yang bertobat dan menjadi muslim yang benar. Berkenaan dengan orang-orang yang akan dikenai hukuman, lanjutan ayat itu mengatakan: ‘Allah menjanjikan untuk orang-orang munafik laki-laki dan perempuan dan orang-orang yang ingkar api nereka, mereka akan kekal di dalamnya. Cukuplah itu bagi mereka. Dan mereka akan ditimpa azab yang kekal. (9.68 ) Dan, akhirnya:

“Mereka bersumpah atas nama Allah bahwa mereka tidak mengatakan sesuatu, tetapi mereka sungguh telah mengatakan perkataan yang ingkar dan sungguh telah ingkar setelah mereka masuk Islam. Maka jika mereka bertobat, hal itu adalah lebih baik bagi mereka, tetapi bila mereka berpaling, Allah akan menghukum mereka dengan hukuman yang pedih di dunia ini dan di akhirat kelak. Dan mereka tidak akan memiliki teman maupun penolong di muka bumi. (9.74)

Rasulullah saw tahu betul bahwa Abdullah bin Ubay bin Salul adalah raisul Munafiqin, tetapi beliau tidak mengambil tindakan apa-apa terhadapnya. Bahkan sebaliknya, Rasulullah saw menyembahyangkan jenazahnya ketika ia meninggal. Diriwayatkan bahwa Umar bin Khattab berkata: ‘Ketika Rasulullah saw datang dan berdiri di dekat jasad Abdullah bin Ubbay dan akan segera menyembahyangkannya, aku bertanya kepada beliau, ‘Apakah Tuan akan menyembahyangkan musuh Allah?’ Rasulullah saw tersenyum dan berkata: ‘Menyingkirlah hai Umar. Aku telah diberi pilihan dan aku telah memutuskan. Dikatakan kepadaku: Minta ampun untuk mereka atau tidak memintakan ampun. Meskipun engkau memohon ampunan bagi mereka tujuhpuluh kali Tuhan tidak akan mengampuni mereka’ Jika aku mengetahui bahwa dengan memohonkan ampunan lebih dari tujuh puluh kali maka ia diampuni, aku akan melakukannya.’ Kemudian beliau menyembahyangkannya dan menyertai pemakamannya dan menunggu di kuburannya sampai ia selesai dimakamkan.

Kebebasan untuk berubah fikiran adalah asam penguji bagi ‘laa ikraha fid diin’. Hal ini tidak dapat menjadi kebebasan satu arah bebas untuk masuk Islam, tetapi tidak untuk meninggalkannya. Ada sepuluh rujukan langsung kepada menarik pernyataan iman di dalam Alquran: Satu di dalam surah Makkiyyah surah An Nahl dan sembilan lainnya adalah surah-surah Madiniyah. Tidak satupun dari ayat-ayatnya sedikitpun isyarat tentang hukuman mati bagi orang-orang yang berbalik meninggalkan Islam.

Satu dari pernyataan Al-quran yang sangat spesifik mengenai tindakan murtad adalah ayat ke 14 surah AI Baqarah. Kiblah berubah dari Yerusalem menuju Mekkah pada tahun kedua Hijrah. Ibnu Ishaq meriwayatkan:
“Dan pada waktu Qiblah berubah arah dari Syiria ke Ka’bah, Rifaa bin Qais, Qardam bin Amr, Ka’ab bin Asyraf, Rafib Abu Rafi, alHajaj bin Amr seorang sekutu Kab, al-Rabi bin Ar Rabi bin Abul Huqaiq dan Kinana bin AI Rabi bin bul Huqaiq datang kepada Rasulullah saw dan bertanya: Mengapa anda berpaling dari Qiblah yang biasa kepadanya anda menghadap padahal anda menyatakan mengikuti agama Ibrahim? Jika anda kembali kepada Qiblah di Yerusalem kami akan ikut dengan anda dan menyatakan bahwa anda benar.’ Tujuan mereka adalah hanya untuk membujuk beliau [untuk berpaling] dari agama beliau. Maka Allah berfirman: ‘Kami yang menentukan Qiblah, yang dahulu kepadanya kalian menghadap, hanya untuk membedakan siapa yang akan mentaati sang Rasul dan orang-orang yang tidak taat untuk menguji dan memisahkan mereka. Sesungguhnya, ini adalah ujian yang berat kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah.’

Al quran tidak menentukan hukuman bagi para pembelot ini. Dan sejarah mencatat tak seorangpun mendapat hukuman yang membelot setelah berubahnya arah kiblat.
Surah AIi Imran, yang diwahyukan setelah kemenangan Badr, tahun ke 2 Hijrah/624 M, mengandung dua ayat berikut ini yang menyebutkan murtadnya beberapa orang Yahudi di Madinah:

‘Hai Ahli Kitab; mengapa kamu mencampur adukkan kebenaran dengan kebatilan dan dengan sengaja menyembunyikan kebenaran? (3.72)

‘Dan segolongan dari Ahli Kitab berkata: ‘Berimanlah kepada apa yang telah diwahyukan kepada orang-orang yang beriman pada pagi hari dan ingkar pada petang hart Agar mereka berpaling.’ (3.73)

Ibnu Ishaq telah menyebutkan nama-nama orang-orang yang menetaskan rencana ini:
Abdullah bin Sayf dan Adi bin Zaid dan AI Harits bin Auf sepakat untuk berpura-pura beriman kepada pendakwaan Muhammad saw dan para sahabatnya pada satu waktu, mendustakannya pada waktu yang lain untuk membuat mereka bingung. Tujuannya adalah agar mereka meniru tingkah laku mereka dan meninggalkan agama mereka.’

Tak seorangpun dari tiga orang Yahudi ini yang dijatuhi hukuman.
Rujukan lainnya adalah di dalam surah An Nisa. Dikatakan: ‘Orang-orang yang beriman kemudian ingkar, kemudian beriman lagi, kemudian ingkar dan kemudian bertambah-tambah dalam keingkaran mereka tidak akan pernah diampuni oleh Allah., tidak pula Dia akan membimbing mereka ke jalan yang benar. ( 4.138 ) Seorang yang murtad tidak dapat menikmati indahnya beriman dan ingkar seandainya hukumannya adalah mati. Seorang yang telah mati tidak lagi memiliki kesempatan untuk beriman lagi dan ingkar lagi.

Sunnah, pola hidup Rasulullah saw, adalah sumber kedua setelah Syariah. Dan di dalam sunnah juga tidak ada hukuman untuk tindakan keluar dari Islam. Nama orang/orang yang dihukum oleh Rasulullah saw tercatat di dalam sirah dan hadits dan nama orang-orang yang menjadi murtad dan menolak Islam dalam hidupnya juga ada tersimpan. Seorang Arab Badui masuk Islam ditangan Rasulullah saw dan segera setelah itu ia terserang demam panas di Madinah. Ia meminta Rasulullah saw agar melepaskannya dari ikatan bai’atnya. Ia mengajukan permintaan ini sampai tiga kali dan tiga kali pula ditolak. Ia meninggalkan Madinah dengan bebas. Rasulullah saw mendengar berita keberangkatannya, bersabda: Medinah bagaikan tungku api yang memisahkan karat dari sesuatu yang bersih.

Ibnu Ishaq meriwayatkan bahwa Rasulullah saw telah memerintahkan para panglima beliau ketika mereka memasuki Mekkah untuk memerangi hanya orang-orang yang menyerang mereka.

Satu satunya pengecualian adalah para kriminal berikut ini yang dijatuhi hukuman mati meskipun mereka ditemukan berlindung di dalam kain pembungkus ka ‘bah/kiswah.

1. Abdullah bin Saad bin Abi Sarah
2. Abdullah bin Khatal dari Banu Tayim bin Ghalib dan dua orang perempuan penarinya, yang biasa menyanyikan lagu-lagu sindiran terhadap Islam. Salah satunya adalah Fartana, nama yang lain tidak disebutkan oleh Ibnu Ishaq.
5. AI Huwairits bin Nuqaidh bin Wahab bin Abd bin Qussay
6. Miqyas bin Subabah
7. Sarah, budak yang telah dimerdekakan dari suku Bani Abdul Mutalib.
8. Ikrima bin Abu Jahal



Abdullah bin Saad adalah seorang juru tulis Rasulullah saw di Madinah. Ia murtad dan menyeberang kepada kaum kuffar Mekkah. Karena ia menuliskan wahyu, yang didiktekan oleh Rasulullah saw, dan menduduki kedudukan yang terhormat, penyeberangannya pasti akan menciptakan kebingungan dikalangan kaum Quraisy Mekkah tentang keaslian wahyu itu sendiri.

Setelah Mekkah kembali damai, saudara sepersusuannya, Utsman bin Affan, mengajukan permohonan kepada Rasulullah saw atas namanya dan ia kemudian diampuni. Seandainya ada hukuman yang ditetapkan Al quran untuk suatu kemurtadan, Rasulullah saw tentu tidak akan memberikan pengampunan itu. Kebijaksanaan Rasulullah saw terhadap permohonan melalui perantara berkenaan dengan hukum hadd jelas digambarkan oleh kejadian wanita Makhzumi yang terbukti bersalah karena mencuri. Ketika Usamah bin Zaid memohon atas namanya, Rasulullah saw memarahinya dan bersabda:



Apakah engkau campur tangan terhadap hukuman yang telah ditetapkan oleh Allah? Bersaksilah: Seandainya Fatimah binti Muhammad, terbukti bersalah karena mencuri, aku pasti akan memotong tangannya.’

Abdullah bin Khatal dikirim oleh Rasulullah saw untuk memungut zakat, ditemani oleh seorang anshar yang membantunya. Ketika mereka beristirahat, ia memerintahkan kepada temannya itu untuk menyembelih seekor kambing untuknya dan menyiapkan makanan sebelum pergi tidur. Ketika ia terbangun orang itu belum melakukan apa-apa, maka ia membunuhnya dalam keadaan marah kemudian murtad dan melarikan diri kepada Quraisy Mekkah. Ia dihukum mati karena membunuh seorang Anshar Muslim oleh Said bin Huraits al- Makhzumi dan Abu Barzh al- Aslami.
Salah seorang dari perempuan penyanyi Ibnu Khatal dihukum mati karena menimbulkan keresahan dengan melantunkan Iagu-lagu satiris; sementara yang lainnya diampuni.

Al-Huwairits b. Nuqaidz waktu itu sedang dalam kelompok Habbar bin alAswad din al-Muthallib bin Asad yang membuntuti putri Rasulullah saw Zainab, ketika beliau sedang dalam perjalanan dari Mekkah ke Madinah. Al Huwairits menghalau unta Zainab. Zainab sedang hamil dan mengalami keguguran karena serangan itu dan terpaksa kembali ke Mekkah. Rasulullah saw mengirimkan sejumlah orang dengan perintah bahwa jika mereka menemukan Habbar bin al-Aswad at au AI-Huwairits mereka harus membunuhnya, tetapi al-Huwairits melarikan diri. Dalam riwayat lain, Hisham berkata bahwa AI-Abbas bin Abdul Mutallib membawa Fatimah dan Ummi Kalsum, dua putri Rasulullah saw dengan seekor unta untuk membawa mereka dari Mekkah ke Medinah.

Al Huwairits menghalau hewan itu sehingga ia melemparkan kedua perempuan itu dari punggungnya. Akhirnya Ali membunuhnya di Mekkah. Maqis bin Subabah datang ke Madinah dari Mekkah dan berkata: ‘Aku datang kepadamu sebagai seorang muslim menuntut balas atas kematian saudaraku, yang dibunuh dengan tanpa hak.’ Rasulullah saw memerintahkan agar ia dibayar atas pembunuhan saudaranya Hisham. Setelah menerima uang tebusan, Maqis tinggal bersama Rasulullah saw beberapa waktu. Tetapi, begitu ia memperoleh kesempatan ia membunuh pembunuh saudaranya, menarik pernyataan imannya dan menyeberang ke Mekkah. Maqis dihukum mati oleh Numailah bin Abdullah karena membunuh seorang Anshar, yang atas namanya pembayaran uang darah atas pembunuhan saudaranya telah lunas dibayar. Sarah, yang dituduh menciptakan keonaran, tidak dibunuh pada masa hidup Rasulullah saw.

Ikrimah b Abu Jahal melarikan diri ke Yaman. Istrinya, Ummi Hakim, masuk Islam dan meminta pengampunan untuk dirinya dan hal itu dikabulkan oleh Rasulullah SAW.

---------------------------------------------------------------------------------
Di Malaysia hanya ramai tukang riuh dan melalak sahaja yang kononnya pembela Islam yang sebenar tapi hanya ibarat tong kosong yang berdengung tanpa isi.Isu Murtad ini adalah isu sejagat dimana semua orang ISlam yang beriman wajib mengajak ke mabali orang yang murtad kembali ke ajaran Islam dan jika mereka enggan maka wajib dibunuh(Setelah melalui perundangan islam dan  dibenar oleh perundangan Syariah) Islam,setelah melalui

Isu gereja: Kembali kepada sirah Nabi


Tuan Guru Abdul Hadi Awang

Apabila tercetusnya isu siasatan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) terhadap penganjuran program di Damansara Utama Methodist Church, tidak semena-mena media arus perdana bertindak memaparkan berita dengan tujuan untuk melonjakkan UMNO menjadi juara mempertahankan Islam, seolah-olah memang benarlah UMNO adalah sebuah parti gagah perkasa yang mempertahankan Islam.

Perlu diketahui bahawa pertembungan agama untuk mencari penganut bukan perkara baru, kerana ianya berlaku sejak dari zaman Nabi Adam sehinggalah tamatnya ajal dunia ini. Umat Islam yang beriman bahawa mereka adalah penganut agama para rasul yang berakhir dengan Nabi Muhammad S.A.W. wajib mempertahankan agama mereka dan menyebarkannya kepada seluruh manusia. Namun dilarang melakukan paksaan, kerana Islam itu bukan sahaja ucapan secara lisan, ianya hendaklah disertakan dengan iman dan dinyatakan dengan amalan yang ikhlas.

Rasulullah S.A.W. mengizinkan penganut agama lain wujud dalam masyarakat Islam secara aman dengan menjadi rakyat, yang wajib dilayan secara adil tanpa paksaan dalam agama menerusi perjanjian bertulis yang dimeteraikan.

Dalam masa yang sama Islam mewajibkan penganutnya mempertahankan Islam, yang menjadi hak kepada penganut Islam sendiri dan kerajaannya. Zalim terhadap penganut agama lain juga adalah haram, sehingga Rasulullah S.A.W memberi amaran neraka kepada orang Islam yeng mengkhianati perjanjian yang sebenarnya adil.

Al Quran meletakkan garis panduan dalam surah Al Haj, ayat 40:

Maksudnya :“Dan sekiranya Allah tiada menolak (keganasan) sebahagian manusia dengan sebahagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara dan gereja-gereja penganut kristian, rumah-rumah ibadat orang yahudi dan masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa.”

Rasulullah S.A.W telah menafsirkan perintah Allah secara amalan, apabila Islam melarang penganut Islam menceroboh gereja dan paderi walaupun ketika berlakunya perang. Maka sudah tentulah ketika damai keadaan ini lebih wajib dipelihara.

Bagi penganut agama lain yang wujud bersama dan berada dalam masyarakat Islam yang lebih ramai sekalipun, maka hak beragama, berkeluarga, bekerja dan bermasyarakat bagi mereka adalah wajib ditunaikan dan haram dicabuli oleh mana-mana pihak. Dalam masa yang sama, banyak ayat Al Quran memaparkan berlakunya perbahasan secara hujah di antara Islam dan pihak lain dalam masyarakat Islam dengan mengutamakan kebijaksanaan.

Sejarah Islam juga memaparkan kewujudan orang Islam dalam masyarakat bukan Islam yang berkuasa dan adil tanpa paksaan terhadap penganut Islam:

Rasulullah S.A.W. mengarahkan para sahabatnya berhijrah ke Habasyah, iaitu sebuah negara kristian ortodok yang adil di zamannya untuk mendapat perlindungan, dan berlakunya dialog di antara Islam dan Kristian dengan hujah.

Sejarah Islam di China menyebut kewujudan masyarakat Islam di negara China yang besar, dan adanya orang Islam yang menyumbang khidmat negara dengan cemerlang kepada negara China dan adanya hubungan diplomatik di antara China dan Islam dengan baik.

Amir Al Mukmin Umar bin Al Khattab dijemput oleh paderi besar Palestin yang menyambut kemenangan Islam menjatuhkan Rom Timur yang sebelumnya dikuasai oleh penganut Kristian yang berlaku zalim terhadap mereka. Khalifah Umar datang menerima jemputan dan melawat Gereja Baitul Laham.

Apabila tiba waktu sembahyang, Umar bertanya :”Di mana tempat saya bersembahyang?” Paderi besar menjawab: ”Di sini sahaja (dalam gereja)”. Umar menjawab: ”Tidak patut bagi Umar bersembahyang di sini, nanti generasi akan datang berkata 'Umar pernah bersembahyang di sini lalu mereka mendirikan masjid di sini (dengan merobohkan gereja)”.

Maka Umar pun keluar dan bersembahyang di halaman, dan bersempena dengannya didirikan masjid yang masih ada sehingga hari ini berhampiran dengan gereja yang masih ada. Apa yang paling menarik di zaman terkini, pihak gereja itu pula melindungi mujahidin Palestin yang dikepung oleh tentera zionis Israel.

Semua cerita benar tersebut berlaku dalam keadaan Islam diamalkan dengan sempurna, yang berbeza dengan Islam yang diamalkan oleh UMNO pada ketika lalu dan kini. Islam warisan penjajah Inggeris yang di zamannya Islam telah dirampas kuasanya daripada raja-raja Melayu dengan memenjarakannya dalam kepompong Jabatan Agama dan Majlis Agama yang tidak berkuasa mengikut Islam yang sempurna.

Manakala kedudukan jabatan agama adalah mengikut bidang kuasa seperti jabatan-jabatan lain, seperti jabatan pendidikan, tanah, kebajikan, termasuk jabatan haiwan dan perhutanan. Kuasa jabatan agama itu sekadar mengawal masjid, mengawasi khutbah dan pengajian agama, mengendalikan urusan keluarga Islam, pusaka dan harta wakaf.

Islam menjadi agama yang diperintah dan ditadbir, bukannya agama yang memerintah dan mentadbir. Hasilnya masjid boleh digeledah, tidak ada perbezaan dengan gereja dan imam boleh diambil tindakan bukan kerana kesalahan agama, tetapi kerana kononnya kesalahan politik. Politik pula dipisahkan daripada agama, seperti juga pemisahan agama dengan politik dalam lain-lain agama selain dari Islam.

UMNO tidak layak mempertahankan Islam kerana tidak berwajah Khalifah Umar yang melawat gereja dan bersembahyang apabila tiba waktunya, kerana Umar mendirikan sembahyang maka dengan sendiri mendirikan masjid, sedang UMNO mendirikan masjid tetapi tidak semestinya mendirikan sembahyang. Mereka boleh berhimpun untuk membincangkan agenda negara dengan meninggalkan sembahyang, sedangkan Saidina Umar tidak memisahkan sembahyang dengan urusan negara.

Kesimpulannya, kenyataan media milik UMNO dalam isu gereja lebih bersifat apa yang disebut oleh Imam Ali K.W. “Ucapan yang zahirnya benar , tetapi matlamatnya kebatilan“. Ianya dengan bermatlamat untuk memancing undi melayu Islam yang buta al Quran, bagi pilihanraya umum ke-13 untuk meneruskan agenda warisan penjajah iaitu Islam yang terpimpin bukannya Islam yang memimpin.

Marilah kita buka Al Quran dan ajaran Rasulullah SAW dan para sahabat dan ulama muktabar yang menunjukkan cara beramal dengan Islam yang sebenarnya. Bukan melalui media dan pengampu di sepanjang jalan.

HarakahDaily

-------------------------------------------------------------------------
Isu gereja bukti kegagalan pembangkang

BERA 14 Ogos - Pas memperlihatkan wajah sebenar parti itu apabila berdolak-dalik berhubung kontroversi pemeriksaan Jabatan Agama Islam Selangor (JAIS) terhadap sebuah gereja yang dipercayai mengadakan majlis untuk memesongkan akidah umat Islam baru-baru ini.

Ahli Majlis Tertinggi (MT) UMNO, Datuk Seri Ismail Sabri Yaakob berkata, parti itu tidak menunjukkan keikhlasan dalam mempertahankan kesucian agama Islam seperti mana yang dilaungkan selama ini.

Beliau berkata demikian selepas majlis berbuka puasa di Felda Rentam di sini semalam.

Pada 3 Ogos lalu, pasukan penguat kuasa JAIS menjalankan pemeriksaan di Dream Centre milik Gereja Methodist Damansara Utama dekat Petaling Jaya, Selangor berikutan terdapat aduan mengenai majlis berbuka puasa dianjurkan di rumah ibadat itu.

Ismail Sabri yang juga Menteri Perdagangan Dalam Negeri, Koperasi dan Kepenggunaan menegaskan, Pas tidak layak mengakui bahawa parti itu memperjuangkan Islam kerana tiada keikhlasan ditunjukkan parti itu dalam menangani isu tersebut,

Sementara itu di ALOR GAJAH, bekas Ketua Menteri Melaka, Tan Sri Abdul Rahim Tamby Chik berkata, sikap berdolak-dalik pembangkang di Selangor berhubung isu pemeriksaan JAIS ke atas gereja itu membuktikan kegagalan pihak tersebut menangani masalah pemesongan akidah umat Islam.

Katanya, perkara itu jelas ditunjukkan oleh pembangkang sama ada Pas atau kerajaan PKR Selangor yang seolah-olah tidak mampu bertindak, semata-mata kerana mahu menjaga kepentingan pihak lain dalam pembangkang.

Menurutnya, tindakan Pengerusi Jawatankuasa Tetap Hal Ehwal Islam, Adat Istiadat Melayu dan Kemudahan Awam Negeri, Datuk Dr. Hasan Mohd. Ali mempertahankan tindakan JAIS dalam isu tersebut amat dipuji namun, pada masa sama menunjukkan kepimpinan parti yang melaungkan kepentingan Islam itu tidak sepakat antara mereka.

Utusan 
 

Share It

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...